Rasa yang bernama Rindu
Entah apa yang kurasakan saat ini, rasa-rasanya hariku tak sama lagi sejak kehadirannya yang tiba-tiba dalam hidpku. Tak pernah kusangka hadirnya bisa mempengaruhi tatanan hidupku. Awalnya kupikir hanya sapaan biasa,
dan aku pun meladeninya. Nyatanya itu adalah kesalahan terbesarku, karena semuanya bermula dari sana. Aku tak pernah menyangka bahwa pada akhirnya aku jatuh padamu. Bagaimana caranya dia bisa membuatku selalu berharap di setiap malam? Kenapa harus dia?
Tuhan, aku tak tahu harus bagaimana, yang aku tahu ketika dia tak lagi hadir hatiku rasanya hampa dan kosong. Entah sejak kapan bermulanya, tapi dia berhasil menyeretku ke dalam hutan rindu. Ku akui dia berhasil, berhasil membuatku merindunya, berhasil membuatku berharap, berhasil mengobrak-abrik perasaanku, dia berhasil membuatku jatuh padanya.
Di saat ku pikir aku akan tenang tanpa kehadirannya, nyatanya aku salah. Ketakhadirannya malah membuat siksa pada hatiku yang mengharapkan kehadirannya. Harusnya aku tak pernah jatuh, toh aku tahu aku bukanlah satu-satunya yang dia perlakukan seperti ini. Tapi kenapa aku masih berharap?
Sehebat apapun aku menyangkal, hatiku tak bisa terus-terusan berdusta bahwa aku rindu akan sosoknya. Sosok yang sangat salah untuk ku rindukan. Sial. Rasanya selalu sesak tiap ku berharap di setiap malam, tapi dia tak kunjung menghampiri, inikah akhirnya? Dia berhasil membuatku terbang dan menghempaskanku bergitu saja.
Kadang aku berpikir mungkin dia sedang sibuk hingga tak punya waktu untuk sekedar menyapaku dalam barisan kalimat biasanya, tapi kutemukan diriku sedang menghibur hati yang dirundung rindu. Ingin rasanya menghilangkan rasa ini, tapi bagaimana? Aku tak tahu caranya. Aku hanya lelah terus berharap pada sosok yang bahkan sudah lupa padaku. Rasanya seperti berharap senja muncul di pagi hari, mustahil. Aku terlalu terlena dengan kepiawaiannya memainkan hati, kini hatiku terjebak dalam sebuah labirin rumit yang seperti tak ada jalan keluar. Terkadang aku berpikir kenapa aku masih harus berharap padanya sedang aku tahu bahwa aku bukanlah satu-satunya? Ternyata teori cinta itu buta memang benar. Tak perduli dia seorang bajingan sekalipun, rasa cinta itu masih tetap hadir. Manusia memang bodoh, karena malah memperdulikan sesuatu yang bahkan tak memperdulikannya. Manusia terlalu egois, karena mempertahankan perasaan yang justru akan menghancurkannya. Manusia itu naif, terlalu berharap pada suatu kemustahilan. Manusia itu munafik, selalu menyangkal rasa yang jelas-jelas tertanam di hati.
Mungkin aku bukanlah satu-satunya bagi dia, cukuplah dia membiarkan aku merindunya, itu sudah sangat cukup untukku. Tak perduli dia juga merindu atau bahkan tidak. Inilah aku sosok manusia bodoh yang merindukan bulan di pangkuan.
dan aku pun meladeninya. Nyatanya itu adalah kesalahan terbesarku, karena semuanya bermula dari sana. Aku tak pernah menyangka bahwa pada akhirnya aku jatuh padamu. Bagaimana caranya dia bisa membuatku selalu berharap di setiap malam? Kenapa harus dia?
Tuhan, aku tak tahu harus bagaimana, yang aku tahu ketika dia tak lagi hadir hatiku rasanya hampa dan kosong. Entah sejak kapan bermulanya, tapi dia berhasil menyeretku ke dalam hutan rindu. Ku akui dia berhasil, berhasil membuatku merindunya, berhasil membuatku berharap, berhasil mengobrak-abrik perasaanku, dia berhasil membuatku jatuh padanya.
Di saat ku pikir aku akan tenang tanpa kehadirannya, nyatanya aku salah. Ketakhadirannya malah membuat siksa pada hatiku yang mengharapkan kehadirannya. Harusnya aku tak pernah jatuh, toh aku tahu aku bukanlah satu-satunya yang dia perlakukan seperti ini. Tapi kenapa aku masih berharap?
Sehebat apapun aku menyangkal, hatiku tak bisa terus-terusan berdusta bahwa aku rindu akan sosoknya. Sosok yang sangat salah untuk ku rindukan. Sial. Rasanya selalu sesak tiap ku berharap di setiap malam, tapi dia tak kunjung menghampiri, inikah akhirnya? Dia berhasil membuatku terbang dan menghempaskanku bergitu saja.
Kadang aku berpikir mungkin dia sedang sibuk hingga tak punya waktu untuk sekedar menyapaku dalam barisan kalimat biasanya, tapi kutemukan diriku sedang menghibur hati yang dirundung rindu. Ingin rasanya menghilangkan rasa ini, tapi bagaimana? Aku tak tahu caranya. Aku hanya lelah terus berharap pada sosok yang bahkan sudah lupa padaku. Rasanya seperti berharap senja muncul di pagi hari, mustahil. Aku terlalu terlena dengan kepiawaiannya memainkan hati, kini hatiku terjebak dalam sebuah labirin rumit yang seperti tak ada jalan keluar. Terkadang aku berpikir kenapa aku masih harus berharap padanya sedang aku tahu bahwa aku bukanlah satu-satunya? Ternyata teori cinta itu buta memang benar. Tak perduli dia seorang bajingan sekalipun, rasa cinta itu masih tetap hadir. Manusia memang bodoh, karena malah memperdulikan sesuatu yang bahkan tak memperdulikannya. Manusia terlalu egois, karena mempertahankan perasaan yang justru akan menghancurkannya. Manusia itu naif, terlalu berharap pada suatu kemustahilan. Manusia itu munafik, selalu menyangkal rasa yang jelas-jelas tertanam di hati.
Mungkin aku bukanlah satu-satunya bagi dia, cukuplah dia membiarkan aku merindunya, itu sudah sangat cukup untukku. Tak perduli dia juga merindu atau bahkan tidak. Inilah aku sosok manusia bodoh yang merindukan bulan di pangkuan.
Komentar
Posting Komentar